July 6, 2017

SPIDER-MAN: HOMECOMING (2017)


"Can't you just be a friendly neighborhood Spider-Man?"
(Tony Stark)


Tom Holland menjadi orang ketiga yang memerankan sosok Peter Parker/Spider-Man di layar lebar. Melalui Spider-Man: Homecoming, sang manusia laba-laba tidak hanya lahir baru, tetapi ia akhirnya 'pulang' ke Marvel Cinematic Universe. Fakta bahwa Marvel terlibat dalam penggarapan film ini membuat saya sangat lega, karena setidaknya, kesalahan yang dilakukan Sony dan Marc Webb di The Amazing Spider-Man bisa dipastikan tidak akan terulang. Sony menggandeng Marvel dan menunjuk Jon Watts sebagai nahkoda untuk menghadirkan film ke-16 MCU ini. Mengambil perspektif cerita yang berbeda dari dua pendahulunya, Spider-Man: Homecoming mampu menandingi Spider-Man 2 versi Sam Raimi sebagai film Spider-Man terbaik. For the quality aspect of a superhero film as a whole, Spider-Man 2 is still the best Spider-Man film, but personally, I like and appreciate Spider-Man: Homecoming a little bit more. Why? Just keep reading.

Mengambil setting pasca kejadian di Captain America: Civil War, Peter Parker (Tom Holland) kembali ke Queens untuk melanjutkan hidup sebagai murid SMA di Midtown School of Science & Technology. Menganggap dirinya sudah siap untuk tanggung jawab yang lebih besar, Peter berharap dilibatkan oleh Tony Stark (Robert Downey Jr.) dalam misi berikutnya. Namun, Tony menginginkan Peter menjadi sang friendly neighborhood Spider-Man saja untuk sementara. Keadaan berubah ketika Peter mendapati Adrian Toomes (Michael Keaton) a.k.a The Vulture bersama timnya membuat senjata berbahaya dari rongsokan yang mereka kumpulkan pasca the battle of New York di The Avengers. Menganggap Adrian Toomes adalah ancaman, Peter bertekad untuk menghentikan aksi The Vulture dengan mengabaikan perintah dari Tony Stark sang mentor, mencoba membuktikan kualitas dirinya dengan tuntutan tugas sekolah yang selalu membayanginya di saat yang bersamaan.


This is a great Spider-Man interpretation from a different perspective. Tidak lagi bertutur tentang wafatnya Uncle Ben dan asal mula kekuatan Peter Parker, Jon Watts menyuguhkan proses pencarian jati diri seorang Peter Parker. Dengan usia yang masih sangat muda, Peter sudah mengemban tanggung jawab sebagai pahlawan super di saat ia masih harus datang ke sekolah tepat waktu atau mewakili sekolahnya dalam lomba akademik. He has become a superhero, but at some point, he may not be ready to be one yet. Proses belajar Peter menuju kematangan itu lah yang dihadirkan dalam Homecoming, disusun dengan sangat baik beserta penokohan yang amat memikat. Sisi nerd and awkward sebagai anak SMA dan sisi ceroboh sebagai pahlawan di usia labil dituturkan dalam berbagai adegan ringan nan menghibur, ditambah dengan beberapa karakter pendukung yang tampil cukup baik. Walaupun tidak menonjol, para supporting role punya perannya masing-masing dalam konteks berbeda dan memberi bumbu penceritaan yang menarik, seperti Ned (Jacob Batalon) yang menjadi teman konyolnya Peter, serta Aunt May (Marisa Tomei) dengan ungkapan yang fantastis di ending.

Tom Holland portrayed both Peter Parker and Spider-Man perfectly. Performa gemilang Tom Holland membuat Spider-Man versinya menjadi Spidey favorit saya sekarang. Representasi Peter Parker yang polos, canggung, dan menyenangkan ditampilkan tepat oleh Tom, seperti saat ia gugup ketika berbicara dengan Liz (Laura Harrier) gadis pujaan hatinya, begitu pula dengan gambaran Spider-Man yang ceroboh, ambisius, dan konyol, seperti saat ia kebingungan untuk menentukan jenis web shooter mana yang akan ia gunakan ketika hendak mencegah aksi musuhnya. Michael Keaton tampil sangat baik sebagai The Vulture. Jon Watts berhasil membuat penonton memiliki kedekatan dengan sosok Adrian Toomes sebagai manusia, sebelum disuguhkan menjadi The Vulture sang antagonis. Opening scene hadir sebagai pondasi dasar guna membangun motivasi yang kuat. He's not just some bad guy who wants to rule the world for his own sake. Penokohan yang kuat berpadu dengan kemampuan mumpuni cukup untuk mengangkat The Vulture sebagai salah satu Villain terbaik MCU sejauh ini.



Dengan total enam penulis yang terlibat, naskahnya berhasil memfokuskan pada karakterisasi kuat Peter Parker dalam konteks kehidupan remaja pada umumnya. This movie allows you to have those moment where you just sit and watch him trying to be a kid. Every teen loves to have fun, so does Peter. Kesenangan bagi Peter adalah mengejar penjahat di kotanya. Tak ubahnya masa remaja secara umum, kesenangan kerap mengarah pada kecerobohan dan berujung kecemasan. Adegan terbelahnya kapal ferry pun menjadi contoh kecerobohan Spider-Man muda, tidak hanya berujung pada kecemasan atas keselamatan nyawa ratusan orang di laut, tetapi juga pembuktian dirinya sebagai pahlawan yang terancam gagal. Alurnya pun dibangun secara substansial dan tersusun rapi, sehingga walaupun pace sempat agak datar di pertengahan, tetapi penceritaannya tidak terasa membosankan dalam durasi dua jam lebih. Diselipkan pula banyak easter egg dan reference, entah itu terhadap karakter di komik ataupun keberlanjutan MCU secara lebih luas.

Beberapa aspek yang kurang digarap dengan maksimal adalah komedi serta adegan aksi. Banyak komedi yang tidak memiliki punchline maksimal, terjebak dalam humor klise ala remaja. Komedinya banyak dihadirkan melalui percakapan oleh Peter Parker yang memang banyak bicara, tetapi justru yang lebih memorable adalah komedi dalam momen dan situasi tertentu, seperti adegan ketika Spider-Man harus berlari karena tidak menemukan tempat untuk mengaitkan jaring, atau momen Peter dengan Happy Hogan (Jon Favreau) di toilet. Kurang tampak Marvel fun, tapi tetap terasa Spidey fun. Begitu pula dengan adegan aksinya yang walaupun enjoyable, tapi tergolong lemah dan tidak memuaskan. Fight scene terakhir yang tampak terlalu cepat membuat klimaks tidak maksimal. Tidak ada action sequence pemacu adrenalin seperti climax battle antara Spider-Man dan Green Goblin di Spider-Man 1, atau ketika Spider-Man berusaha menghentikan kereta di Spider-Man 2. Kendati demikian, saya memahami film ini sebagai pencarian jati diri Peter Parker, sehingga berbeda dengan film superhero pada umumnya yang memang berpuncak pada climax battle, Homecoming justru menghadirkan climax battle sebagai puncak dari pencarian jati diri tersebut, and I'm okay with that.


Eksplorasi karakter Peter Parker yang berbeda dan mendalam adalah alasan mengapa saya mengagumi film ini. Tidak seperti beberapa standalone film anggota Avengers lainnya, Homecoming lebih banyak berkutat tentang Peter Parker sebagai seorang manusia biasa ketimbang sebagai sang penyelamat dunia. Peter Parker tidak seperti Steve Rogers yang memang dipilih sebagai super soldier, atau Thor yang memang dasarnya setengah dewa, atau Tony Stark yang memang hidup dari teknologi dan penjualan senjata. Korelasi antara kehidupan mereka sebagai manusia memang sejalan dengan kehidupannya sebagai pahlawan super. But Peter Parker? He's just a  kid in high school. Peter Parker hidup sebagai murid SMA dengan ambisi menjadi pahlawan super sehingga mengalami pergumulan yang begitu kuat. Peter's struggle to maintain his academic and to save the world described very well in this film. Itulah yang membuat Spider-Man menawan di film ini, fakta bahwa Peter hanyalah seorang bocah naif dan innocent dibalik topeng manusia laba-laba.

Kelahiran kembali Peter Parker dibangun dengan sangat baik melalui film ini. Spider-Man begitu digemari karena karakternya yang dekat dengan kehidupan banyak orang, so people can easily relate to him. The fact that he's just a normal kid who has everyday problem and sometimes needs help, even when he is being Spider-Man, seperti ketika Peter meminta bantuan saat mengendarai mobil Audi. Dalam bahasa Inggris, kata Homecoming memiliki arti 'the fact of a person arriving home after being away for a long time.' Spider-Man: Homecoming tidak hanya berarti pulangnya sang manusia laba-laba ke 'rumah' aslinya yaitu Marvel, tetapi juga dipahami sebagai kepulangan sosok seorang Peter Parker kepada jati diri yang sesungguhnya. Not just as a superhero, but also as a person.

Ada 1 mid-credit scene dan 1 post-credit scene yang penting untuk film selanjutnya, so don't miss it.

June 1, 2017

WONDER WOMAN (2017)


"I will fight, for those who can not fight for themselves."
(Diana Prince)

Setelah sempat mencuri perhatian dalam kegagalan bernama Batman v Superman: Dawn of Justice, Wonder Woman hadir melalui film solonya dengan membawa setumpuk beban. Respon negatif terhadap tiga installment sebelumnya membuat ekspektasi publik semakin tinggi, berharap sang superhero wanita paling ikonik mampu menyelamatkan wajah DC Extended Universe. Beban semakin berat melihat budget film arahan Patty Jenkins ini tidak sampai separuh dari  budget film Batman v Superman, bahkan lebih kecil dari Suicide Squad. Dengan setumpuk beban berat yang dimiliki, Wonder Woman secara ajaib mampu tampil lebih baik ketimbang tiga pendahulunya. Walaupun tidak bisa dibilang luar biasa, setidaknya dapat membawa angin segar bagi para penggemar.

Bercerita tentang Diana (Gal Gadot), putri Amazon yang tinggal di sebuah pulau terisolasi bernama Themyscira yang semua penduduknya adalah perempuan. Ia dilatih menjadi petarung handal oleh Antiope (Robin Wright), petarung terhebat di pulaunya. Suatu hari, Diana menyelamatkan Steve Trevor (Chris Pine), petugas intelijen armada angkatan darat Amerika Serikat yang terdampar dalam pesawat di pulaunya. Steve menceritakan bahwa dunia luar sedang diambang konflik seiring pecahnya Perang Dunia I. Diana pun bertekad meninggalkan pulaunya untuk misi yang lebih besar; menghentikan perang tersebut, sekaligus memenuhi takdirnya sebagai seorang petarung.




Setengah jam pertama film ini berfokus pada perkenalan pulau Themyscira sekaligus masa kecil Diana yang memiliki motivasi untuk belajar bertarung (little Diana is so cute). Cerita dongeng dari sang ibu, Hippolyta (Connie Nelsen) tentang dewa-dewa pun cukup menjelaskan motivasi dari para rakyat Amazon, serta cara pandangnya terhadap peperangan. Cerita tentang dewa inipun penting untuk memahami sepertiga akhir film ini. First act dibawakan dengan cukup baik dari berbagai sisi. Scoring garapan Rupert Gregson-Williams cukup membangkitkan adrenalin ketika fight scene mulai terlihat di layar. Sayangnya, theme song khas Wonder Woman seakan terlalu diobral, membuatnya tidak begitu magis ketika didengar.

Sinematografi Matthew Jensen sempurna tatkala menggambarkan pulau Themyscira yang terlihat indah bak surga ditambah penggunaan tone warna yang cerah. Namun keindahan sinematografi itu sempat hilang ketika berlangsungnya fight scene. Penggunaan cut yang cepat saat one-on-one combat membuat penonton tidak bisa menikmati adegan pertarungan tersebut. Untungnya kekhawatiran tersebut tidak berlangsung lama, karena beberapa fight scene selanjutnya jauh lebih memikat. Koreografi memukau mampu dengan cerdik dibalut dengan penggunaan slow motion yang pas, membuat Wonder Woman terlihat begitu badass sebagai satu-satunya perempuan di antara para lelaki. Sayang, CGI yang agak kasar terasa begitu mengganggu. Action sequence terakhir yang merupakan bagian klimaks juga terasa bak flashback ketika Diana bersama Batman dan Superman menghadapi Doomsday, yang untungnya digarap dengan lebih baik sehingga tidak mengecewakan.



Gal Gadot tampil cukup gemilang, walaupun beberapa gestur dan ekspresi wajahnya masih tidak tampak natural. Kepolosannya selama di London masih menjadi bagian yang menarik. Chris Pine is perfect as Steve Trevor, and I think he's the best cast in this film, even better than Gal Gadot. Kharismanya yang likeable sangat menonjol, ditambah chemistry-nya yang fun dengan Gal Gadot. Kepolosan Diana serta kelelakian Steve mampu dibawakan mereka berdua dengan apik, membuat berbagai scene komedi menggelitik cukup menutup kelemahan second act film ini. Studi karakter mereka kuat karena berhasil menggali karakter Wonder Woman sebagai seorang manusia, serta Steve Trevor yang berhasil menghindari sosok useless human besides the superhero. Sangat disayangkan ada kesalahan umum yang juga dimiliki hampir setiap film superhero: the villain problem. Ada lebih dari satu sosok villain di film ini, dan beberapa diantaranya tidak dibangun dengan kuat, lalu ditinggalkan begitu saja di akhir film (like, that's it?). Ares sebagai villain terakhir pun tegolong lemah, sangat kontradiksi dengan dongengnya yang diceritakan Hippolyta sebagai seorang dewa kuat.

Elemen terbaik terdapat pada naskah garapan Allan Heinberg. Mengambil origin story seorang Wonder Woman sebagai film pertama adalah keputusan tepat untuk secara perlahan memahami transformasi Diana Prince menjadi Wonder Woman. Selain studi karakter yang kuat, ada banyak momen kecil yang menunjukkan eratnya hubungan Diana-Steve, seperti ketika Steve mengajari Diana cara berdansa. Jenkins bersama Heinberg jeli menempatkan momen kecil seperti itu untuk membiarkan mereka menjadi 'manusia' untuk sementara. Naskahnya pun menyimpan setumpuk pesan penting dan menarik, baik tersirat maupun tersurat. Berbagai dialog bak metafora sebagai kritik sosial terhadap realita. Salah satunya ketika Diana baru mengetahui fungsi arloji dan mengatakan "You let that little thing tells you what to do?", seakan menyindir orang yang hidupnya berpacu dengan waktu tanpa menikmati berbagai momen kehidupan.



Pesan yang paling menarik untuk saya adalah perkataan Steve kepada Diana tentang baik-jahatnya manusia menjelang climax battle. Saya merasa begitu hangat ketika menyaksikan scene tersebut, termasuk karena kesabaran Steve menjelaskan pada Diana di tengah pertempuran. Dialog itu mungkin cerminan terjujur seorang manusia, membuat kalimat "It's not about deserve. It's about what you believe." terasa menyimpan makna yang sangat mendalam. Ada lagi ketika Diana menghardik para Jenderal yang dianggapnya pengecut sekaligus mengkritik peperangan, bahkan birokrasi, menjadi kritik juga bagi petinggi yang egois dan tidak peduli serta mengorbankan 'rakyat'nya sendiri. Diana yang selama ini hanya mengetahui Themyscira beserta dongeng tentang dewa semata, menjadi bingung ketika memasuki 'dunia nyata' dengan idealismenya. Steve justru tidak memandang Diana aneh, tetapi malah berpikiran terbuka dan dengan sabar membantu Diana beradaptasi. Hal itu juga saya maknai sebagai kritik bagi banyak orang yang menganggap orang lain bodoh atau aneh, hanya karena pemikiran mereka berbeda. Ada lagi makna dibalik perbedaan tone warna antara Themyscira dan London. Themyscira yang menggunakan tone terang menggambarkan cerahnya sebuah rumah yang damai, sementara London menggunakan tone gelap, menggambarkan mengerikannya kenyataan di dunia luar beserta orang-orang di dalamnya.

Overall, Wonder Woman is good, but not great. Wonder Woman is literally about woman who wondering what is really going on (is that why she's called Wonder Woman?). Entahlah, yang jelas asal usul mengapa sebutan itu bisa disematkan pada Diana Prince tidak diceritakan di film ini. Patty Jenkins bak melawan arus budaya film DCEU sebelumnya. Tidak segan menyelipkan humor ringan tepat sasaran, menggunakan tone warna yang lebih terang, serta beraksi mengedepankan sisi humanis dan cinta, berujung pada hasil yang lebih baik ketimbang tiga film terdahulunya. Melihat kualitas film serta respon positif kritikus terhadap film ini, mungkinkah sudah waktunya bagi DCEU mengubah haluan film-film selanjutnya? Mungkin saja. Pastinya, bagai Wonder Woman yang menyelamatkan manusia sekaligus memberi harapan perdamaian, film ini juga menyelamatkan wajah DC dan Warner Bros sekaligus memberi harapan bagi masa depan DCEU.

May 29, 2017

HOUSE OF CARDS (SEASON 1 - 4)

SPOILER REVIEW



Sinopsis: House of Cards bercerita tentang drama politik Amerika Serikat yang berpusat di Washington D.C. Tokoh sentralnya adalah Frank Underwood, seorang anggota kongres partai Demokrat dari South Carolina. Frank yang juga seorang whip (pengumpul suara) terlibat dalam tim pemenangan Garrett Walker untuk menjadi Presiden Amerika Serikat, dengan kursi Secretary of State menjadi imbalan bagi Frank jika Walker menang. Hasilnya, Walker terpilih untuk menduduki kursi kepresidenan, namun mengingkari janjinya untuk mengangkat Frank menjadi Sekretaris Negara. Murka karena tidak mendapat pemenuhan janji, Frank berniat membalas dendam dan mengincar kursi kekuasaan tertinggi di negaranya, dengan bantuan Claire Underwood, sang istri yang tidak kalah liciknya dari Frank sendiri.

Salah satu serial TV terbaik yang pernah saya saksikan akan kembali di musim kelimanya pada akhir bulan Mei. Meski ditinggal oleh hengkangnya sang kreator, Beau Willimon, House of Cards season lima tetaplah menjadi tontonan yang amat saya tunggu, mengingat banyaknya cerita menarik yang tersimpan di akhir season sebelumnya. Saya harap beberapa storyline yang saya tulis tidak menjadi spoiler, because it's not about what happened, but it's about how that happened. Bagi anda yang juga menyaksikan serial ini, berikut mini review saya untuk keempat season House of Cards.

SEASON 1

Balas dendam Frank Underwood karena ingkar janjinya sang Presiden terpilih dimulai dengan strateginya menyingkirkan Michael Kern, kandidat terkuat untuk menduduki kursi yang dijanjikan Walker kepada Frank. Memiliki hubungan simbiosis mutualisme dengan Zoe Barnes, jurnalis baru The Washington Herald, Frank berhasil membentuk opini bahwa pencalonan Kern adalah hal yang buruk. Frank juga meraih kepercayaan Presiden dan publik dengan meloloskan education bill gagasannya kendati harus bersitegang dengan Serikat Guru. Persekongkolannya bersama Cathy Durant berhasil menyingkirkan Kern dari pencalonan Sekretaris Negara yang akhirnya diisi oleh Cathy. Ya, bukan Frank yang justru menduduki jabatan itu, karena ia memiliki misi yang lebih besar dari sekadar menjadi salah satu pelayan Presiden.

Frank melakukan segala hal untuk meraih kepercayaan gedung putih agar dirinya diberi kursi kekuasaan yang lebih tinggi: menjadi Wakil Presiden, dengan keterlibatan tidak langsung dari Raymond Tusk, miliarder sekaligus kerabat dekat dari Walker. Misinya melibatkan Peter Russo yang dicalonkan menjadi Gubernur Pennsylvania. Dalam pekerjaannya, Frank dibantu oleh Doug Stamper, orang kepercayaan Frank yang sangat loyal sekaligus kejam, serta Remy Danton sang pelobi handal. Tak luput juga bantuan tidak langsung dari Claire Underwood yang juga berkutat dengan drama korporat SanCorp. Penceritaan di season pertama begitu menarik, karakterisasinya juga kuat, membuat House of Cards menjadi tontonan wajib setiap tahunnya.
Rating: 4.5/5

SEASON 2

Musim kedua ini menghadirkan episode pembuka yang menyuguhkan twist paling mengejutkan dari keseluruhan empat season yang ada. Setelah berhasil membuat dirinya ditunjuk mengisi kursi Vice President, kini pertarungan sesungguhnya dimulai: Frank akan merebut kursi kekuasaan tertinggi di Amerika Serikat. Ibarat sebuah laga sepakbola, perjalanan panjang Frank Underwood di season ini bak laga final bagi sebuah tim yang sudah lama mengidamkan gelar juara. Posisi Frank yang cukup ideal menjadi senjata kuat untuk secara licik dan manipulatif menggulingkan pemerintahan Presidennya sendiri. Raymond Tusk memegang peranan penting yang menjaga keseruan musim kedua ini. Walaupun konflik dengan China tidak begitu menarik, namun segitiga perebutan kekuasaan antara Frank-Walker-Tusk mampu menjaga tensi konflik sepanjang musim. Penuh intrik kotor dan kejam, dengan bumbu manipulasi serta pengkhianatan, tidak peduli mana kawan mana lawan.

Beberapa plot pendukung pun turut menambah deretan menariknya cerita di season ini. Salah satu yang menarik perhatian adalah sesi interview Claire Underwood dengan sebuah media, yang berujung pada terbukanya masa lalu Claire yang kelam. Konflik personal itu membuat Claire yang sebelumnya tampak kejam seperti Frank, menjadi lebih humanis sebagai seorang manusia. Diceritakan pula kelanjutan dari Freddy BBQ Joint yang tidak berujung manis. Sayangnya drama Doug Stamper dan Rachel Posner yang nihil substansi membuat karakter Doug yang kuat seakan terbuang percuma di paruh akhir musim. Di season ini muncul sosok Jackie Sharp, penerus Frank Underwood sebagai whip, Seth Grayson sang press secretary, serta Heather Dunbar yang menjadi tokoh penting hingga season keempatnya.
Rating: 4.5/5

SEASON 3

Frank Underwood is the President now, then what? Season ketiga ini menceritakan bagaimana Frank mempertahankan kekuasaannya, yang ternyata tidak lebih menarik daripada ketika Frank merebutnya. Naiknya seorang Frank Underwood di puncak kekuasaan seakan membuat sang kreator kehabisan ide cerita, membuat munculnya konflik lain yang sayangnya kurang memikat, seperti konflik Doug-Rachel (lagi) dan drama pernikahan Frank-Claire Underwood. Untungnya season ini menghadirkan sosok Viktor Petrov, sang presiden Rusia yang cukup menjaga drama politiknya tetap menarik. Sangat disayangkan season ini menghilangkan double-knock khas Frank Underwood.

Cerita Frank di season ini berkutat dengan kontroversi salah satu programnya sebagai Presiden baru, yaitu America Works yang berantakan dan ditentang oleh Leadership. Doug sendiri diberi waktu istirahat yang cukup lama, membuat chemistry antara dia dengan Frank sedikit pudar, mengingat spotlight tetaplah tertuju pada sang Presiden. Momen menarik di season ini adalah debat terbuka antara Frank, Dunbar, dan Jackie di episode 11. Selain di episode pertama, twist di season ini juga tersaji di episode terakhir, yang lagi-lagi terganggu dengan drama seorang Rachel Posner. Walaupun menjadi season terlemah dari keempat season yang sudah rilis, season tiga tetaplah layak ditonton. Claire Underwood is the best part of this season.
Rating: 3.5/5

SEASON 4

Seakan belajar dari lemahnya season ketiga, House of Cards Season 4 kembali menghadirkan cerita yang jauh lebih menarik. Drama politiknya lebih kuat. Selain kepentingan politik pribadinya, Frank sebagai seorang Presiden juga berkutat dengan konflik politik yang membawa nama negaranya. Hubungan Amerika-Rusia sempat kembali memanas, ditambah dengan munculnya Islamic Caliphate Organization (ICO), yang notabene adalah ISIS versi House of Cards. Pertarungannya dengan Heather Dunbar dan William Conway sebagai calon Presiden turut mewarnai apiknya season keempat ini. Frank juga harus menghadapi persoalan pribadinya dengan Claire yang terlihat lebih powerful dibanding tiga season sebelumnya. Karakter Seth Grayson juga perlahan menjadi semakin kuat. Season ini menghadirkan twist sebelum mencapai separuh musim.

Perjalanannya menjadi calon Presiden pun diwarnai dengan terkuaknya foto 'aib' masa lalu Frank yang membuatnya kehilangan suara di home state nya sendiri. Perselisihannya dengan Cathy Durant yang mulai muak dengan Frank pun begitu menegangkan. Salah satu yang paling menarik untuk dinantikan di season selanjutnya adalah bagaimana Tom Hammerschmidt yang mengumpulkan fakta kuat tentang busuknya seorang Frank Underwood dan mulai mempublikasikannya di The Washington Herald. Untuk pertama kalinya anda akan menyaksikan suatu hal yang mampu membuat seorang Frank Underwood ketakutan. Frank harus menghadapi perselisihannya dengan Claire dan Cathy, pertarungannya dengan Conway, kesehatannya yang semakin kritis, perseteruan negaranya dengan organisasi teroris, hingga pemberitaan yang mengancam reputasi bahkan hidupnya, hingga menemukan ide yang bisa menjadi jawaban atas semua masalah itu di ending season keempat ini. Begitu banyak potensi cerita menarik yang disisakan di akhir season ini, membuat season lima menjadi sangat ditunggu kehadirannya.
Rating: 4.5/5

OVERALL: Perginya seorang Beau Willimon pastinya memberikan pengaruh signifikan terhadap serial ini, yang mungkin menjadi salah satu penyebab mengapa perilisan season lima lebih lama beberapa bulan dari biasanya. Menarik melihat bagaimana cara kotor serta licik Frank dan Claire Underwood dalam menghadapi setumpuk permasalahan kompleks yang tersaji dalam season lima. Masuknya masa Pemilu juga akan menambah cerita pertaruhan hidup-mati yang dapat mengancam reputasi karir bahkan citra pribadi dari duo Underwood. Jika menengok empat season sebelumnya, kita tahu bahwa Frank dan Claire selalu punya cara tersendiri. Namun kompleksitas masalah yang ditinggalkan membuat mereka seakan mustahil lolos dari jebakan kawan dan lawan di sekitar mereka. Well, like Frank Underwood said, "There is but one rule: hunt or be hunted". Let the hunting games begin, again.

May 8, 2017

ISTIRAHATLAH KATA-KATA (2016)


"Kekejaman kalian adalah bukti pelajaran yang tidak pernah dituliskan."
(Wiji Thukul)

Saya harus berterima kasih kepada ruang pemutaran alternatif Cine Space Gading Serpong yang telah memutarkan film Istirahatlah Kata-Kata pada 6 Mei kemarin, memuaskan rasa bersalah saya yang tidak sempat menyaksikan karya seorang Yosep Anggi Noen ketika diputar di layar lebar. Hasilnya mengagumkan, sulit untuk tidak mengagumi biopik sederhana dengan kualitas kelas atas ini. Anggi mampu membawa kompleksitas seorang penyair biasa secara luar biasa, menghasilkan cerminan realita yang jauh lebih nyata.

Film ini berfokus pada kisah hidup seorang Wiji Thukul (Gunawan Maryanto) ketika bersembunyi dari kejaran pemerintah dan aparat ke Pontianak pada 1996. Sinopsisnya hanya sebatas itu, menceritakan keseharian Wiji Thukul yang berlindung dalam ketakutan sambil berpindah-pindah tempat agar tidak ditemukan. Film ini bukanlah menggambarkan sosok Wiji Thukul sebagai aktivis perlawanan, namun lebih menggali sosok pribadinya sebagai seorang manusia yang juga memiliki rasa takut dan rapuh, terlebih merindukan sosok istri, Sipon (Marissa Anita) beserta kedua anaknya yang jauh dari dirinya.


Film dibuka dengan lembut, membiarkan kesunyian menyeruak diiringi puisi lirih dari Wiji Thukul sebagai narasi setiap adegan. Intimnya setiap kata yang diucapkan dalam puisi secara perlahan membawa penonton memasuki sudut pandang sang penyair, menjadi jembatan untuk penonton memahami film ini secara mendalam. Situasi politik tidak digambarkan secara masif karena memang bukan itu fokusnya. Film biografi ini secara cerdik mengobservasi karakter melalui kompleksitas seorang manusia pada masanya, bak visualisasi buku sejarah yang mencerminkan kehidupan sang tokoh secara jujur dan nyata.

Penataan kamera seorang Bayu Prihantoro berfokus untuk menangkap situasi minim gerakan dengan shot panjang dan lama yang memang menjadi kegemaran seorang Anggi Noen. Pemilihan aktor yang mayoritas memang pemain teater adalah keputusan tepat, sehingga bisa bebas bermain dengan long shot sebagai 'panggung' mereka. Kediaman gambar minim gerakan menyimpan setumpuk kisah yang membangun dinamika karakter, bak tenangnya puisi dengan makna yang mendalam. Musik garapan Yennu Ariendra pun tidak banyak berbicara, hanya sesekali menyelinap masuk dengan lembut mengiringi setiap adegan dengan tepat.


Naskah yang juga digarap oleh Anggi tidak hanya jeli mengeksplorasi kedalaman karakter, tetapi juga pintar bermain dengan simbol yang detail serta metafora tersembunyi, seperti menyoroti lukisan perjamuan terakhir ketika Thukul sedang makan bersama kawan-kawannya. Anggi juga tidak lupa menyelipkan gambar gedung bioskop dari kayu yang dipakai untuk bermain badminton, sebagai penghormatan masa kecil seorang Wiji Thukul yang pernah menjadi calo tiket bioskop. Kendati filmnya lebih banyak bermain dengan kesunyian, tetapi Anggi tidak membuat filmnya terasa datar. Setiap adegan penting, penuh makna, terlebih jika voice over pembacaan puisi Wiji Thukul masuk mengiringi. Naskahnya memang luar biasa, menjadi gambaran sempurna terhadap judulnya. Dialog dipakai tepat guna dan muncul ketika diperlukan. Mengistirahatkan kata-kata, bercerita dengan rasa penuh makna dalam cerminan realita.

Gunawan Maryanto dan Marissa Anita menyuguhkan sajian akting luar biasa. Sisi terdalam seorang Wiji Thukul dipaparkan melalui ekspresi minim tanpa banyak bicara oleh Gunawan. Eksplorasi kompleksitas karakter yang dalam membuat Gunawan mampu memancarkan varian emosi yang kaya kendati hanya diam dalam shot yang lama. Observasi karakter Wiji Thukul sebagai seorang manusia biasa pun sangat mengagumkan. Ia memberontak tapi takut, tengil tapi diredam, tergambar ketika ia berkata "Ternyata jadi buron itu lebih menakutkan". Ketakutan seorang pelarian ketika ada aparat di dekatnya tergambar nyata ketika Thukul bisu terdiam saat di tukang pangkas rambut dan bertemu dengan seorang aparat. Adegan itu juga menyimpan sindiran terhadap aparat, yang merasa superior terhadap orang kecil, bahkan arogan dan intimidatif ketika situasi santai.

Marissa Anita memerankan Sipon yang rapuh tapi berusaha lembut, terlihat ketika ia menemani anaknya mengerjakan tugas saat mati lampu. Tidak lupa diselipkan romantika sederhana ketika ia akhirnya bertemu sang suami dan memanggilnya dengan nama aslinya, setelah lama dipanggil dengan sebutan Paul, nama samarannya. Sosok Sipon yang memiliki gejolak batin kuat pun dipancarkan dengan oleh Marissa yang lebih banyak bermain dengan kata-kata dan tindakan. Ekspresi muka yang ditampilkan pun sangat baik, mencurahkan kedalaman emosi ketika seseorang bingung akan kondisi hatinya sendiri. Ucapan terakhir Sipon merupakan rangkuman atas apa yang dia rasakan sepanjang film.



Kuatnya eksplorasi karakter dengan varian emosi yang kaya ditutup dengan metafora penuh makna. Tatkala Sipon mencurahkan segala isi hatinya yang selama ini dipendam, Wiji Thukul seketika menghilang tanpa pernah kembali. Kalimat terakhir Wiji Thukul kepada Sipon yang dalam bahasa Indonesia berarti "Sudah atau mau lagi?" bak pertanyaan kepada pemerintah terkait kasus penghilangan orang dan pelanggaran HAM. Apakah kasus-kasus tersebut ingin disudahi dan diselesaikan atau mau terjadi lagi? Ketika Sipon diam tidak memberi jawaban, kepergian Thukul pun terjadi lagi, seperti diamnya pemerintah yang tidak menutup kemungkinan bahwa kasus serupa mungkin dapat terulang.

Seperti Wiji Thukul yang menulis puisi untuk menafsirkan zaman, Anggi Noen menulis kisah ini untuk menafsirkan kehidupan Wiji Thukul melalui sinema. Terasa begitu personal sebagai cerminan realita yang sangat jujur. Film ini bisa merubah kiblat dunia perfilman, ketika biasanya film memajang hal spectacle luar biasa sebagai fantasi yang tidak bisa ditemukan secara nyata, Anggi justru dapat membuat orang berbalik ke sinema ketika ingin melihat kenyataan. Istirahatlah Kata-Kata menjadi bukti nyata bahwa cara tutur sinema yang personal mampu menghasilkan maha karya berkualitas yang pantas untuk dihargai. Anggi menampilkan karya dengan cara tutur anti-mainstream, menawarkan kebaharuan dalam kenyataan, menjadikan Istirahatlah Kata-Kata sebagai referensi kehidupan. He is not making a movie, but he is presenting reality.

April 28, 2017

GUARDIANS OF THE GALAXY VOL. 2 (2017)


"Sometimes, the thing you've been looking for your whole life,
is right there beside you all along."
(Peter Quill)

Tiga tahun lalu, James Gunn berhasil membawa sekumpulan penjaga galaksi tak dikenal ke layar lebar. Kendati tidak setenar pahlawan super Marvel lainnya, Guardians of the Galaxy nyatanya menjadi salah satu film tersukses Marvel Studios yang membuat para pemainnya menjadi idola baru berkat keunikannya tersendiri. Kedekatan emosional yang dibangun di film pertamanya membuat Gunn mengambil langkah berani dengan membawa cerita yang lebih personal dan mendalam di sekuelnya ini, tepatnya drama tentang keluarga yang sederhana. Gunn berhasil menyajikan cerita yang menyentuh tanpa melupakan aspek komedi yang lebih fun di Vol. 2 ini.

Cerita bermula dengan menjawab pertanyaan dari film pertamanya tentang ayah dari Peter Quill/Star-Lord (Chris Pratt). Ayah Peter rupanya merupakan sosok celestial bernama Ego (Kurt Russell) yang merindukan sosok sang anak dalam diri Peter. Berbekal motivasi ingin menjadi ayah yang sebenarnya, Ego mengundang Peter bersama dengan Gamora (Zoe Saldana) dan Drax (Dave Bautista) ke planet miliknya, sementara Rocket (Bradley Cooper) dan Baby Groot (Vin Diesel) memperbaiki pesawat Milano pasca memerangi pasukan Sovereign sambil menjaga Nebula (Karen Gillan). Yondu (Michael Rooker) disewa oleh pimpinan Sovereign, Ayesha (Elizabeth Debicki) untuk menangkap Guardians yang mencuri barang kepunyaannya.


Salah satu 'penyakit' film Marvel Studios yang tak kunjung sembuh adalah color grading yang begitu flat dan terlihat jelek. Untungnya, penyakit tersebut tampak membaik di Guardians of the Galaxy Vol. 2. Penggunaan warna yang lebih vibrant membuat film ini begitu berwarna, bahkan paling berwarna diantara seluruh film Marvel Cinematic Universe sejauh ini. James Gunn pintar memadukan warna-warni perang galaksi dalam balutan sinematografi indah garapan Henry Braham yang dengan cerdik mengambil begitu banyak shot menawan. Peningkatan itu menghasilkan aspek visual yang indah, tak heran sang sutradara menyarankan untuk menyaksikan film ini versi IMAX 3D.

Penyakit lainnya yang disembuhkan oleh James Gunn di film ini adalah penggunaan musik. Saya yakin anda tidak akan mengingat musik dari film-film MCU seperti anda mengingat musik film-film James Bond, Star Wars, ataupun Harry Potter, karena memang scoring film-film MCU hanya seadanya, tidak ada yang memorable. Mungkin hanya scoring The Avengers yang sedikit ikonik di MCU. Beruntung para Guardians memiliki Awesome Mix yang memanjakan telinga sejak film pertamanya. Awesome Mix Vol. 2 is literally awesome. Walaupun sempat tampak bak parade lagu lawas di beberapa menit awal, namun soundtrack nya perlahan dapat menyesuaikan tempo film dengan penempatan yang pas di berbagai momen, terlebih saat lagu Father and Son dari Cat Stevens mulai mengalun dengan begitu menyentuh, mengiringi momen yang juga menggugah emosi.


Baby Groot is very adorable. Ia hadir tanpa memiliki ingatan lama yang membuatnya sangat polos, menjadi salah satu tokoh paling menggemaskan yang pernah hadir di layar lebar. Gunn tidak membuat penonton menunggu lama untuk dapat melihat tingkah lucu Baby Groot yang asik menari melalui alunan lagu Awesome Mix Vol. 2 tatkala para koleganya susah payah membunuh monster berkulit tebal. Tingkah polos, berani, ataupun menggemaskan mampu menghadirkan senyuman di wajah penonton pada tiap kemunculannya di layar. Belum lagi mulut busuk Drax dengan kejujuran pedasnya serta kepolosan (atau mungkin kebodohan) Mantis (Pom Klementieff), alien dengan kemampuan membaca emosi orang lain yang dibesarkan oleh Ego, yang semakin membawa nuansa humor sekuel ini ke level yang lebih tinggi, walaupun terkadang ada yang dipaksakan dan berujung jayus. Berbagai interaksi ejekan pun tetap hadir, seperti ejekan nama Taserface (Chris Sullivan) atau setiap kali Rocket berbicara. Satu hal yang pasti, Vol. 2 ini lebih lucu karena Gunn pintar menempatkan komedi dalam situasi yang tepat, seperti momen-momen Yondu bersama Rocket dan Baby Groot.

Dibanding film terdahulunya, sekuel ini bercerita dengan caranya sendiri. Tidak berfokus kepada pertarungan luar angkasa semata, Vol. 2 lebih menggali benang merah kekeluargaan antar karakter yang lebih kental. Drama keluarga (lebih tepatnya saudara) antara Gamora dan Nebula pun lebih digali seiring Peter yang mulai menjalin hubungan baik dengan ayahnya. Gunn memanfaatkan film keduanya untuk menggali sisi terdalam beberapa karakter yang berhasil dilakukannya dengan brilian, seperti naifnya Nebula, egois nan realistisnya Rocket, dan motivasi serta sisi lain Yondu yang ternyata menjadi karakter terbaik di film ini. Drama keluarga yang dikaji dengan dalam tidak membuat Gunn melupakan aspek visual yang menakjubkan melalui perang galaksi para Guardians.


Kendati memiliki segudang peningkatan dari film terdahulunya, film ini tidaklah lebih baik secara keseluruhan. Dengan kalimat tersebut, bukan berarti film ini lebih jelek pula. Adanya beberapa plot hole dan cerita yang sedikit dipaksakan membuat second act film ini sempat kendor, berkutat dengan perkenalan motivasi Ego sebagai ayah Peter serta kisah asmara Peter dan Gamora. Beberapa kejanggalan tersebut akan menjadi spoiler jika dibahas. Saya juga tidak akan membahas beberapa aspek cerita lebih mendalam karena akan lebih baik jika menyaksikannya sendiri, termasuk tentang sosok villain yang tidak pernah diperlihatkan dalam trailer atau klip manapun. Kendornya second act mampu dibayar lunas dengan third act yang memukau. Tidak hanya sekadar menyajikan perang bombastis, momen emosional yang menyentuh pun banyak ditemui sepanjang film, menekankan ikatan erat para protagonis yang kehilangan keluarga dan menjadikan sesamanya sebagai keluarga baru, seperti Yondu yang mencoba menebus kesalahannya sebagai father figure dari Peter.

Guardians of the Galaxy Vol. 2 adalah contoh sekuel yang mampu menandingi film terdahulu dengan caranya sendiri. Hadirnya sosok baru dalam balutan nama besar seperti Kurt Russell dan Sylvester Stallone menjadi daya tarik tersendiri. Cameo Stan Lee mungkin adalah salah satu yang terbaik dari seluruh cameo yang pernah ia lakukan, termasuk dalam salah satu credit scene yang berpotensi mengembangkan ekspansi dunia kosmik Marvel Cinematic Universe. Kembalinya penjaga galaksi dengan cerita emosional yang mendalam serta komedi segar dalam bungkusan aspek visual indah sangat layak untuk dinikmati di layar lebar, sebagai sajian kelimabelas dari Marvel Cinematic Universe. Guardians of the Galaxy Vol. 2 is bigger and funnier, but not exactly better.

Jangan lupa, ada LIMA credit scene setelah film berakhir. Salah satu diantaranya menyimpan petunjuk untuk masa depan Marvel Cinematic Universe yang mungkin menjadi clue penting untuk Avengers: Infinity War atau bahkan Avengers 4. So, make sure you stay until the very end of the credit.

April 18, 2017

13 REASONS WHY (SEASON 1)

SPOILER REVIEW


"No one knows what's really going on in another person's life.
And you never know how what you do will affect someone else."
(Hannah Baker)

Sebuah kepakan kecil dari sayap kupu-kupu di Brazil bisa menghasilkan tornado besar di Texas. Familiar dengan kalimat tersebut? Ya, itu adalah konsep The Butterfly Effect, bahwa sebuah kejadian kecil bisa memberi perubahan yang sangat besar di kemudian hari, termasuk dalam kehidupan manusia. Pernahkah anda berpikir bahwa seorang teman anda dapat mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri, hanya karena sebuah candaan kecil dari anda? Pernahkah anda berpikir bahwa anda dapat membunuh seseorang hanya karena mengabaikannya? Atau mungkin dapat menyelamatkan hidupnya hanya dengan sebuah sapaan, atau sekadar menyediakan diri untuk mendengar keluh kesahnya? Anda tidak pernah tahu bahwa suatu hal kecil yang anda katakan atau lakukan kepada seseorang dapat memberi dampak begitu besar dalam hidup mereka, bahkan dapat menyelamatkan atau justru mengakhiri hidupnya. Jika anda tidak percaya atau menganggap hal itu berlebihan, anda perlu menonton 13 Reasons Why.

13 Reasons Why bercerita tentang keseharian seorang remaja bernama Clay Jensen (Dylan Minnette) di sekolah Liberty High pasca kasus bunuh dirinya seorang murid yang juga perempuan idaman Clay, Hannah Baker (Katherine Langford). Beberapa hari setelah kasus tersebut, Clay mendapat paket berisi 7 kaset pita di depan rumahnya. Atas rasa penasaran, Clay mencoba mendengarkannya dari boombox milik sang ayah. Ketika mendengar kaset pertama, Clay begitu kaget karena ternyata kaset itu berisi rekaman suara Hannah sebelum bunuh diri. Lebih terkejut lagi ketika suara Hannah dalam rekaman berkata "I'm about to tell you the story of my life. More specifically, why my life ended. And if you're listening to this tape, you're one of the reasons why."


Serial ini diadaptasi dari novel karya Jay Asher dengan judul yang sama. Saya sendiri tidak membaca novelnya, sehingga tidak mengetahui apakah serial ini dapat menjadi gambaran visual yang sempurna dari novel best-seller tersebut atau tidak. Saya juga tidak mencari tahu perbedaan antara novel dan serialnya, dan sebagai penonton awam, saya sangat puas dengan sajian serialnya. This series is amazing and important to watch.

Dari segi cerita, misteri yang dihadirkan sangat dalam dan menarik. Mengambil setting sekolah dengan relasi keluarga dan pertemanan membuat serial ini begitu relatable. Kendati berjalan dengan pace lambat di beberapa episode, namun Brian Yorkey selaku kreator paham betul bagaimana menempatkan misteri yang mampu memancing rasa penasaran penonton. Hampir setiap episode memiliki twist (bahkan lebih dari satu untuk beberapa episode), atau setidaknya momen-momen yang dapat membuat penonton diam tertegun. Meski dalam narasi Hannah lebih mendominasi, namun drama ini diambil dari sudut pandang Clay Jensen. Rasa penasaran, sedih, kaget, bingung, dan terluka dapat dirasakan secara utuh oleh penonton karena penempatan sudut pandang sang tokoh utama tersebut. Build up misterinya begitu mengagumkan, dihadirkan dengan timing yang pas sesuai porsinya, dibuka dengan memilukan secara perlahan dalam setiap episodenya.


Karakter yang dihadirkan juga dieksplorasi dengan dalam. Dylan Minnette sempurna sebagai Clay Jensen, dengan sesekali bermain dengan ekspresi mikro di beberapa episode awal. Kebingungan Clay karena ia menerima tape tersebut tergambar dengan jelas, yang perlahan berubah menjadi kesedihan seiring bergantinya kaset dan berujung kehancuran hatinya ketika sampai pada tape tentang dirinya. Kesedihan Clay sangat tergambar ketika secara perlahan mulai terbayang-bayang Hannah di setiap kegiatannya, berujung anggapan aneh dari orang sekitar. Ledakan emosinya pun terlihat dalam monolognya tatkala membawa murid pertukaran pelajar mengelilingi Liberty High, yang sangat emosional. Katherine Langford juga memerankan Hannah Baker dengan sangat baik. Reaksi atas segala perlakuan yang melukainya disampaikan dengan begitu emosional, baik melalui ekspresi wajah, sikap ketidaknyamanan, maupun ungkapan verbal. Penonton akan dengan mudah berempati terhadap Hannah, terlebih dalam sosok manis Langford yang memang tidak bisa diabaikan.

Karakter yang juga mencuri perhatian adalah Tony dan Alex. Christian Navarro memerankan sosok Tony yang kalem nan misterius dalam setiap gerakannya, sekaligus menjadi sahabat selama Clay mendengarkan tape tersebut. Miles Heizer membawa sosok Alex yang datar dan mungkin menyebalkan, tetapi dia adalah salah satu orang dengan pemikiran paling 'lurus' di antara yang lainnya. Sadar atau tidak, kedua tokoh ini memegang peranan penting dengan porsi yang berbeda seiring bergantinya episode, yang juga menambah tensi misteri di serial ini. Mayoritas karakter pendukung lainnya pun diberi porsi yang cukup signifikan dan seimbang sepanjang season pertama ini, membuat serial ini memiliki karakter yang beragam dengan keunikannya masing-masing. Sangat disayangkan karakter Jeff Atkins tidak mendapat porsi yang lebih besar dalam serial ini.


SPOILER ALERT!
Sangat disarankan berhenti membaca sampai di sini jika belum menonton serialnya, atau lanjutkan membaca tulisan setelah gambar selanjutnya.
Kendati berjudul 13 alasan, hanya ada 12 orang yang disebut oleh Hannah dalam rekamannya. Ya, Justin Foley adalah satu-satunya orang yang dua kali menyakiti sang anak baru. Sejak tape tentang Justin di kaset pertama, paparan alasan mengapa Hannah bunuh diri memang sangat memilukan, dan cenderung memfokuskan empati kepada Hannah, menimbulkan kebencian pada orang-orang yang disebut dalam kasetnya. Kebencian itu mendadak berubah menjadi haru nan pilu ketika sampai di kaset tentang Clay Jensen. Dalam pandangan saya pribadi, sebenarnya Clay tidaklah 'membunuh' Hannah. Namun, Clay juga tidak menyelamatkan Hannah, sehingga niatnya untuk bunuh diri pun tetap berlanjut. Hal ini mengingatkan saya kepada salah satu momen paling menyedihkan dari serial ini, yaitu dialog antara Clay dan Hannah dalam imajinasi Clay. Kalimat Hannah yang mengatakan, "Why didn't you say this to me when I was alive?" begitu memilukan. Alasan Tony mengikuti Clay selama ia mendengarkan kasetnya pun logis. Ia menyaksikan sendiri TKP ketika Hannah bunuh diri, dan ia orang yang dipercaya Hannah. Tony terlalu takut melihat apa yang akan dilakukan Clay ketika ia selesai mendengarnya. He didn't want to find Clay like he found Hannah.

Berbicara tentang ending, begitu banyak pertanyaan dan fan theory yang muncul di akhir episode 13. Yang pertama, benarkah remaja yang dibawa di dalam ambulans itu adalah Alex Standall? Jika diperhatikan lebih seksama, terlihat rambut dari remaja kritis di dalam ambulans berwarna coklat, yang tentu bukanlah warna rambut Alex. Banyak yang mengatakan bahwa remaja itu justru adalah Justin Foley. Cukup logis, mengingat hancurnya hidup Justin di episode-episode terakhir yang berujung perginya Justin entah kemana. Lalu kemana Alex Standall yang dikatakan kepala sekolah menembak dirinya sendiri? Benarkah ia bunuh diri dengan cara seperti itu? Mungkin saja. Terlebih Alex melakukan hal yang juga dilakukan Hannah sebelum ia bunuh diri: merapikan kamarnya. Ataukah justru Alex dibunuh oleh Tyler? Pertanyaan terakhir muncul mengingat Tyler membawa setumpuk pistol dan senjata lain di dalam kopernya, lalu mencopot foto Alex di galerinya. Jika diperhatikan, deretan foto-foto di galeri Tyler adalah foto teman-temannya, dengan komposisi satu orang dalam setiap foto, dan Alex yang pertama dicabut. Saya rasa penempatan adegan itu bukannya tanpa maksud.


Pengemasan drama remaja berbalut misteri yang menarik ini disempurnakan dengan penyusunan visual yang mengagumkan. Pintar memang membuat Clay terjatuh yang menimbulkan luka di dahinya, sehingga bisa membedakan mana kejadian saat ini, mana yang flashback. Jika diperhatikan lebih detail, momen flashback disajikan dengan tone warm orange, seakan kehadiran sosok Hannah yang masih hidup membuat kehidupan Clay menjadi terang. Ketika Hannah sudah meninggal, momen masa kini menggunakan tone cold blue yang seakan menggambarkan dinginnya hidup Clay sepeninggalan Hannah Baker. Belum lagi editing yang bagus dalam menyusun transisi antar scene, memudahkan penonton mengerti setiap kejadian yang dulu menimpa Hannah. Lihatlah scene antara Clay Jensen dan Mr. Porter di episode terakhir. Sinematografinya begitu menarik, menggunakan kamera yang mengelilingi interior Mr. Porter dengan paduan momen flashback yang begitu indah. Jangan lupakan soundtrack serial ini yang sangat memanjakan telinga.

13 Reasons Why adalah serial berkualitas dengan pesan moral yang kuat dan mendalam. Mengangkat isu bullying, sexual assault, bunuh diri, dan masih banyak lagi. Tidak hanya dari sisi remaja, orang tua pun bisa mengambil pesan moral dari serial ini. Bahwa kepekaan dan kepedulian orang tua sangatlah dibutuhkan seorang anak. Lihatlah bagaimana clueless nya orangtua Hannah sebelum sang anak memutuskan bunuh diri. Mengambil setting di SMA membuat serial ini semakin dekat dengan penonton, mengingat SMA merupakan masa-masa puncaknya kenakalan seorang remaja, sehingga banyak hal bisa terjadi. Bahkan sindiran terhadap pihak sekolah pun disampaikan secara tersirat, terlihat dari bagaimana jaim nya pihak sekolah guna membangun kembali image pasca kematian Hannah yang berujung ke ranah hukum.


Sebenarnya sangat banyak nilai dan pesan moral serta pembelajaran yang bisa diambil dari serial ini. Salah satunya adalah keharusan menjaga perkataan dan perbuatan kita terhadap orang lain, karena sekecil apapun dapat berdampak besar bagi mereka. Perlu juga kepekaan dan kehadiran sosok sahabat dan keluarga bagi seseorang. Lihatlah bagaimana sebenarnya Hannah telah menunjukkan keinginan untuk mengakhiri hidupnya, hanya tidak ada yang cukup peka untuk memperhatikan, atau cukup peduli untuk mengambil tindakan. Bahwa seseorang dapat mengakhiri hidupnya hanya karena hal yang terlihat kecil namun sebenarnya penting bagi mereka, dan dapat dicegah dengan cara yang sebenarnya sederhana pula. Dalam sebuah special episode berjudul Beyond the Reasons, terdapat pula pesan dari Selena Gomez selaku executive producer kepada mereka yang merasakan penderitaan seperti Hannah: "There is absolutely nothing wrong with saying that you need help."

Everyone you meet is fighting a battle you know nothing about. So be careful about what you say or do to someone, because you never know how that little things could affect their entire life. And remember, depression is a serious thing. If someone wants your time to talk to you about how they feel, listen to them. Be kind. Always. You might save a life.

Episode Favorit: Episode 12 - Tape 6, Side B
Kedalaman beberapa karakter akan terkuak di episode ini. Bagaimana hancurnya hidup Justin, seberapa berani dan realistisnya seorang Alex, sisi lain dari Tony, dan juga Bryce yang powerful.

Sebagai tambahan untuk melengkapi pengalaman menonton serial yang luar biasa ini, jangan lupa saksikan special episode berjudul Beyond The Reasons setelah menyelesaikan keseluruhan 13 episode season pertama. Episode apa itu? Kenapa harus menonton? Untuk apa? Saksikan saja sendiri, maka keseluruhan pesan dari serial ini akan anda dapat dengan utuh dan sempurna.

April 17, 2017

EYE IN THE SKY (2016)


"Never tell a soldier that he does not know the cost of war."
(Frank Benson)

Ada begitu banyak elemen yang bisa digunakan guna menciptakan thriller yang maksimal. Mulai dari adegan baku tembak, ledakan eksplosif, hingga kehancuran masif oleh makhluk asing. Namun, semua hal itu tidak akan ditemui dalam film garapan Gavin Hood ini, yang malah hanya menggunakan pengadeganan 'sepele' dengan penggarapan brilian. Bermodalkan seorang gadis kecil penjual roti, Eye in The Sky mampu menjadi salah satu thriller dilematis paling mencekam yang pernah ada.

Bercerita tentang operasi di bawah pimpinan Kolonel Katherine Powell (Helen Mirren), dengan tujuan menangkap para petinggi kelompok teroris Al-Shabaab yang berlokasi di Nairobi, Kenya, .Operasi dimulai dengan pengawasan gerak-gerik target melalui udara oleh sang pilot, Steve Watts (Aaron Paul). Melihat minimnya kesempatan untuk mengidentifikasi target dari jarak dekat, diutus lah Jama Farah (Barkhad Abdi) yang menyamar guna membaur sebagai rakyat. Operasi tersebut diawasi oleh Letnan Jendral Frank Benson (Alan Rickman) serta Perdana Menteri Inggris dengan beberapa perwakilan lainnya. Temuan sebuah fakta lapangan melalui pengintaian memicu perdebatan tentang tujuan sebenarnya dari operasi tersebut, yang semakin rumit ketika melihat kondisinya berbenturan dengan sisi kemanusiaan.


Naskah garapah Guy Hibbert dengan cerdik memancing kepedulian penonton melalui eksplorasi karakter dan paparan konflik. Sajian konten pembicaraan melalui pertukaran dialog pun tidak tergolong rumit, tetapi mampu menyulut kecemasan penonton dengan perasaan yang bercampur aduk. Penonton secara perlahan diajak memahami kondisi yang dijabarkan dengan jelas, sebelum akhirnya memahami akar konflik yang menjadi perdebatan para pihak terkait. Benturan kepentingan itu disajikan tanpa menyudutkan pihak manapun, sehingga dukungan penonton akan mudah berganti kubu. Permasalahnnya sederhana, hanya harus menembak atau tidak. Eksplorasi karakter yang mendalam dengan banyaknya layer konflik membuat naskahnya begitu kaya akan narasi tentang ketegasan dan moral seorang manusia melalui interaksi antar tokohnya.

Kecerdikan membangun pondasi konflik melalui benturan kepentingan disempurnakan dengan penuturan Gavin Hood selaku sutradara. Sajian momen yang mempertanyakan soal kemanusiaan menjadi permulaan sumber ketegangan dan memicu gejolak emosi sebagai seorang manusia. Film ini menunjukkan betapa sulitnya mengambil keputusan ketika sisi humanis berbenturan dengan sisi profesionalitas, membuat para karakter tidak mampu mengambil keputusan atas dasar keraguan pribadi, sehingga kerap kali melimpahkannya kepada orang lain yang lebih berwenang. Berbagai pertanyaan sederhana tentang keputusan yang harus diambil pun berujung jawaban normatif yang tidak menyelesaikan masalah, atau lebih tepatnya menghindar dari tanggung jawab.



Karakterisasi yang kuat semakin maksimal karena akting para pemain yang memikat. Helen Mirren yang memerankan Kolonel Katherine Powell menampilkan hasrat tinggi dalam membungkam teroris ini hidup ataupun mati. Sebagai sosok pemimpin, karakternya dituntut untuk memancarkan ketegasan, terlebih dalam ranah militer, membuat penonton perlahan meragukan ambisi Katherine yang terasa sebagai ambisi personal. Alan Rickman menampilkan posisi dualisme karakter yang sejatinya sangat rawan dalam kondisi seperti ini. Frank yang merupakan tentara senior yang begitu memahami pentingnya misi itu, juga adalah seorang ayah yang begitu menyayangi putri kecilnya, sehingga sisi humanisnya pun begitu jelas. Walau melalui scene yang sederhana, kecintaannya pada sang anak sangat terlihat di sela-sela pekerjaannya. Dualisme karakter Frank yang kuat juga terlihat tatkala ia nampak berdarah dingin selama operasi, namun ditutup dengan begitu manusiawi melalui kalimat terakhir yang diucapkan. Alan Rickman is amazing.

Show stealer terdapat dalam sosok Steve Watts yang diperankan Aaron Paul. Posisinya sebagai pilot yang memegang kendali sangat dilematis, terlebih perannya sebagai eksekutor ditentukan oleh komando sang kolonel, bukan dari dirinya sendiri. Benturan antara otak dan hati ditampilkan melalui ekspresi minim oleh Aaron Paul, yang dengan jelas dapat terlihat bagaimana kuatnya pertentangan batin dalam dirinya. Meski begitu, Steve Watts selaku posisi yang menerima komando tidak serta merta mengikuti keputusan yang tanpa dasar. Keberaniannya saat balik memerintah pimpinannya menunjukkan ketegasan integritas dalam sisi kemanusiaan seorang tentara. Barkhad Abdi juga tampil gemilang, sebagai undercover agent yang turut memancing kecemasan penonton terhadap posisinya yang sangat rawan tertangkap. Jangan lupakan si gadis kecil penjual roti, yang tentu saja mampi mengundang empati penonton melalui tingkah dan gambaran kehidupannya. Sebaiknya ini tidak perlu dibahas, silahkan nikmati sendiri sensasinya.



Meski sarat akan isu humanis dan moralitas, film ini turut menyelipkan kritik terhadap pejabat pemerintahan. Lihatlah bagaimana santainya Menlu Amerika bermain ping pong dan Menlu Inggris yang asik buang hajat di tengah gentingnya operasi yang membutuhkan keputusan mereka. Seakan sebagai sindiran para penguasa yang hidup santai tatkala nyawa 'rakyat kecil' nya dipertaruhkan. Terlebih ketika keputusan yang menyangkut hidup-mati banyak orang tidak mau diambil oleh mereka yang memiliki wewenang, justru malah melemparnya ke orang lain guna melepas tanggung jawab akan resiko yang terjadi. Tajam ya sindirannya?

Eye in The Sky bercerita tentang beratnya pengambilan keputusan yang memiliki berbagai pertimbangan, mulai dari sisi hukum, politik, hingga nyawa seorang manusia. Semua pertimbangan tersebut sangat logis, menempatkan penonton di ambang kebingungan. Berjalan dengan gebrakan yang minim, film ini secara mengejutkan mampu membuat penonton menahan nafas melalui ketegangan yang dibangun dengan mencekam. Benturan profesionalitas dan kemanusiaan yang relatable dengan penonton mampu membuat Eye in The Sky menjadi sajian thriller dilematis yang begitu mencekam. Ketegangan di benak penonton sepanjang durasi ditutup dengan ending yang sunyi nan miris, cukup untuk menggetarkan hati penonton yang pulang tanpa senyuman.